Tokoh
Sastra Arab Palestina ; Mahmoud Darwish
Salah satu Seorang sastrawan yang sangat
termasyhur di anatara kalangan para penyair khususnya sastrawan arab siapa lagi
kalau bukan Mahmoed Darwish. Tak asing lagi kita mendengar nama ini. Seorang penyair
yang banyak akan karya dan seninya yang sangat indah serta menginspirasi. Darwish
merupakan sastrawan yang lahir di Al birweh Palestina pada tanggal 13 Maret
1941. Ia merupakan penyair yang telah dapat banyak penghargaan atas karyanya yang
luar biasa.
Jika kita
menilik sejarah hidupnya, ia telah melewati dan menyaksikan kehancuran
desa-desa tempat kelahirannya. Yang mana peristiwa perang rerusuhan antara
negara Palestina dan Israel sekitar tahun 1948. Hancur balaunya daerah
Palestina membuat tragedi kemanusiaan yang tragis selama bertahun – tahun. Tak gencar
dari konflik tersebut terus berlarut tanpa henti sehingga seharusnya anak –
anak merasakan masa kanak yang indah menjadi masa yang tak karuan tidak seperti
masa kanak yang lainnya. Hak – hak kemanusian terpaksa direnggut oleh penguasa
Israel.
Dari warna warni peristiwa tersebut, Mahmoed
Darwish menuangkan beberapa ide dalam syairnya. Karyanya dalam prosa atau syair
menjadi alat senjata yang hidup terhadap penderitaan warga Palestina yang tak
kunjung larut. Alat perlawanan tersebut untuk melawan ketidak adilan dan ketidak
selarasan. Puisi – puisinya menjadi penyemangat dan patriot atas masyarakat
Palestina. Karena karya-karyanya tersebut Darwish mendapatkan penghargaan
sebagai penyair nasional.
Berikut salah satu puisi karya Mahmoed Darwish
yang terkenal :
Aku berasal
dari sana dan aku mempunyai kenangan
Aku dilahirkan sebagaimana manusia dilahirkan
Aku memiliki seorang Ibu dan sebuah rumah dengan banyak jendela,
Aku memiliki saudara, juga teman
Dan sel penjara dengan jendela yang dingin.
Aku mempunyai
ombak yang menyambar laut-camar
Aku mempunyai penyaksian sendiri
Aku mempunyai rerumputan yang lebat
Aku mempunyai rembulan di ujung kata-kata
dan kurnia burung serta keabadian pohon zaitun
Aku berjalan di atas bumi
sebelum pedang menikam tubuh
yang akan mengubahnya menjadi santapan
Aku berasal dari sana.
Aku mengembalikan langit kepada ibunya
Ketika langit menangisi ibunya.
Dan aku menangis agar awan mengenali kembali diriku
Aku belajar pada semua kata-kata yang pantas
Di pengadilan tertinggi agar aku bisa melanggar peraturan
Aku belajar pada
semua kata-kata dan memecahkannya
agar aku bisa menyusun satu kata