Langsung ke konten utama

Drama dan unsur pembangunannya


Karya drama merupakan karya humaniora. Karya drama merupakan objek 
manusia, faktor kemanusiaan atau fakta kultural, sebab merupakan hasil 
ciptaan manusia. Fakta drama merupakan fakta budaya. Pengalaman pribadi di 
dalam drama dapat dikatakan benar sebagai dasar sastra yang nyata. Seorang 
penulis drama memang tidak sebebas penulis karya sastra yang lain, karena 
dalam menulis drama pengarang harus memikirkan kemungkinan-
kemungkinan agar drama itu dapat di pentaskan.
Saat menyaksikan sebuah drama yang dilakonkan, emosi penonton pun 
terlibat dalam cerita yang diperankan tersebut. Itu artinya, penulis naskah 
drama tersebut mampu membangun sebuah cerita menjadi konflik pada 
masing-masing tokoh sehingga cerita mengalir sebagaimana kejadian 
sesungguhnya. Hal itu tidak terlepas dari kemahiran penulis naskah untuk 
menghidupkan drama tersebut. Untuk dapat menulis naskah drama yang baik 
dan menarik, diperlukan latihan dan pemahaman tentang unsur-unsur yang 
dapat membangun sebuah naskah drama. Unsur-unsur tersebut disebut juga 
dengan unsur intrinsik drama.

Unsur-Unsur Pembangun Drama
3.1 Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra 
itu sendiri (Nurgiyantoro, 2002). Unsur-unsur inilah yang menyebabkan 
karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual 
akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur intrinsik sebuah 
drama adalah unsur-unsur yang (secara langsung) turut serta membangun 
cerita.
Kepaduan antar berbagai unsur intrinsik inilah yang membuat 
sebuah drama berwujud. Atau sebaliknya, jika dilihat dari sudut pembaca, 
unsur-unsur (cerita) inilah yang akan dijumpai jika kita membaca sebuah 
naskah drama. Yang termasuk dalam unsur intrinsik drama adalah judul, 
tema, alur, perwatakan, dialog, petunjuk laku, latar, amanat, bahasa dan 
interpretasi.
a) Judul
Judul adalah kepala karangan atau nama yang dipakai untuk buku 
atau bab dalam buku yang dapat menyiratkan isi buku tersebut. Judul 
suatu karya drama juga merupakan kunci untuk melihat keseluruhan 
makna drama. Judul isi karangan selalu berkaitan erat.
b) Tema
Tema adalah pikiran pokok yang mendasari lakon drama. Pikiran 
pokok ini dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjadi cerita 
yang lebih menarik. Tema dikembangkan melalui alur dramatik 
melalui dialog tokoh-tokohnya.
c) Amanat
Amanat adalah pesan moral yang ingin disampaikan penulis 
kepada pembaca naskah atau penonton drama. Pesan ini tidak 
disampaikan secara langsung, tapi lewat naskah drama yang ditulisnya 
atau lakon drama itu sendiri. Penonton atau pembaca harus 
menyimpulkan sendiri pesan moral apa yang diperoleh dari membaca 
naskah atau menonton drama tersebut.
d) Plot/Alur
Alur/plot cerita atau jalan cerita ialah rangkaian peristiwa yang 
membentuk suatu kesatuan cerita. Menurut Sudjarwadi (2005), plot 
atau alur dalam drama tidak jauh berbeda dengan plot atau alur dalam 
prosa fiksi. Dalam drama juga mengenal tahapan plot yang dimulai 
dari tahapan permulaan, tahapan pertikaian, tahapan perumitan, 
tahapan puncak, tahapan peleraian, dan tahapan akhir.
e) Perwatakan/Karakter Tokoh
Perwatakan atau karakter tokoh adalah keseluruhan ciri-ciri jiwa 
seorang tokoh dalam lakon drama. Karakter ini diciptakan oleh penulis 
lakon untuk diwujudkan oleh para pemain drama. Tokoh-tokoh drama 
disertai penjelasan mengenai nama, umur, jenis kelamin, ciri-ciri fisik, 
jabatan, dan keadaan kejiwaannya. Watak tokoh akan jelas terbaca 
dalam dialog dan catatan samping. Watak tokoh dapat dibaca melalui 
gerak-gerik, suara, jenis kalimat, dan ungkapan yang digunakan.
f) Dialog
Ciri khas suatu drama adalah naskah tersebut berbentuk 
percakapan atau dialog. Penulis naskah drama harus memerhatikan 
pembicaraan yang akan diucapkan. Ragam bahasa dalam dialog 
antartokoh merupakan ragam lisan yang komunikatif.
Dialog melancarkan cerita atau lakon. Dialog mencerminkan 
pikiran tokoh cerita. Dialog mengungkapkan watak para tokoh cerita. 
Dialog merupakan hubungan tokoh yang satu dengan tokoh yang lain. 
Dialog berfungsi menghubungkan tokoh yang satu dengan tokoh yang 
lain. Dialog juga berfungsi menggerakan cerita dan melihat watak atau 
kepribadian tokoh cerita.
Ada dua macam tenik dialog, yaitu monolog dan konversi 
(percakapan). Ada juga teknik dialog dalam bentuk prolog dan epilog. 
Prolog berarti pembukaan atau peristiwa pendahuluan yang diucapkan 
pemeran utama dalam sandiwara. Epilog berarti bagian penutup pada 
karya drama untuk menyampaikan atau menafsirkan maksud karya 
drama tersebut.
g) Latar/Setting
Menurut Akhmad Saliman (1996 : 66), latar adalah tempat 
terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah drama. Latar tidak 
hanya merujuk kepada tempat, tetapi juga ruang, waktu, alat-alat, 
benda-benda, pakaian, sistem pekerjaan, dan sistem kehidupan yang
berhubungan dengan tempat terjadinya peristiwa yang menjadi latar 
ceritanya.
h) Petunjuk Laku
Petunjuk laku atau catatan pinggir berisi penjelasan kepada 
pembaca atau para pendukung pementasan mengenai keadaan, suasana, 
peristiwa, atau perbuatan, tokoh, dan unsur-unsur cerita lainnya. 
Petunjuk laku sangat diperlukan dalam naskah drama. Petunjuk laku 
berisi petunjuk teknis tentang tokoh, waktu, suasana, pentas, suara, 
keluar masuknya aktor atau aktris, keras lemahnya dialog, dan 
sebagainya. Petunjuk laku ini biasanya ditulis dengan menggunakan 
huruf yang dicetak miring atau huruf besar semua. Di dalam dialog, 
petunjuk laku ditulis dengan cara diberi tanda kurung di depan dan di 
belakang kata atau kalimat yang menjadi petunjuk laku.
i) Bahasa
Menurut Akhmad Saliman (1996: 68), bahasa yang digunakan 
dalam drama sengaja dipilih pengarang dengan titik berat fungsinya 
sebagai sarana komunikasi. Setiap penulis drama mempunyai gaya 
sendiri dalam mengolah kosa kata sebagai sarana untuk 
mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Selain berkaitan dengan 
pemilihan kosa kata, bahasa juga berkaitan dengan pemilihan gaya 
bahasa (style).
3.2 Unsur Ekstrinsik Drama
Unsur ekstrinsik drama merupakan unsur-unsur pembentuk drama 
dari luar. Komponen-komponen yang termasuk sebagai unsur ekstrinsik 
drama antara lain adalah :
1. Latar belakang pengarang
2. Nilai agama dan kepercayaan
3. Kondisi politik negara
4. Psikologis pengarang
5. Situasi sosial budaya

Postingan populer dari blog ini

Cara Membuat Keripik Pisang Asin Khas Malang: Gurih dan Renyah!

  Cara Membuat Keripik Pisang Asin Khas Malang: Gurih dan Renyah! Keripik pisang asin khas Malang dikenal dengan rasanya yang khas dan menjadi oleh-oleh favorit. Teksturnya yang renyah dan rasa gurihnya yang pas membuatnya digemari banyak orang. Kini, Anda bisa mencoba membuatnya sendiri di rumah dengan panduan berikut! Bahan-bahan: • Pisang kepok matang (pilih yang masih agak mengkal) • Garam secukupnya • Minyak goreng secukupnya Alat yang Dibutuhkan: • Pisau tajam • Wajan untuk menggoreng • Saringan atau keranjang Langkah-Langkah Membuat: 1. Iris Pisang: Kupas kulit pisang, lalu potong tipis-tipis. Usahakan ketebalannya sama agar pisang matang merata saat digoreng. 2. Taburi Garam: Letakkan irisan pisang dalam wadah, lalu taburi garam secukupnya. Aduk hingga semua irisan pisang terbalut garam. 3. Goreng Pisang: Panaskan minyak di wajan dengan api sedang. Goreng irisan pisang hingga berubah warna menjadi kuning keemasan dan kering. Angkat, lalu ...

Tokoh Sastra Arab Palestina ; Mahmoud Darwish

  Tokoh Sastra Arab Palestina ; Mahmoud Darwish                Salah satu Seorang sastrawan yang sangat termasyhur di anatara kalangan para penyair khususnya sastrawan arab siapa lagi kalau bukan Mahmoed Darwish. Tak asing lagi kita mendengar nama ini. Seorang penyair yang banyak akan karya dan seninya yang sangat indah serta menginspirasi. Darwish merupakan sastrawan yang lahir di Al birweh Palestina pada tanggal 13 Maret 1941. Ia merupakan penyair yang telah dapat banyak penghargaan atas karyanya yang luar biasa.             Jika kita menilik sejarah hidupnya, ia telah melewati dan menyaksikan kehancuran desa-desa tempat kelahirannya. Yang mana peristiwa perang rerusuhan antara negara Palestina dan Israel sekitar tahun 1948. Hancur balaunya daerah Palestina membuat tragedi kemanusiaan yang tragis selama bertahun – tahun. Tak gencar dari konflik ters...

Cara Membuat Keripik Pisang Manis Rendah Gula dan Menyehatkan

  Cara Membuat Keripik Pisang Manis Rendah Gula dan Menyehatkan Keripik pisang merupakan camilan populer yang enak dan bisa menjadi pilihan camilan sehat jika dibuat dengan cara yang tepat. Dengan sedikit modifikasi, Anda bisa membuat keripik pisang manis yang rendah gula dan tetap menyehatkan. Berikut adalah langkah-langkah cara membuat keripik pisang manis rendah gula dan menyehatkan: Bahan-bahan: 4 buah pisang matang (jenis pisang tanduk atau pisang raja lebih disarankan) 1 sendok teh kayu manis bubuk (opsional, untuk aroma) 1-2 sendok teh madu (sebagai pengganti gula) 1 sendok makan air jeruk nipis 1 sendok makan minyak kelapa (untuk menggoreng) Sejumput garam laut (opsional, untuk menambah rasa) Langkah-langkah: Persiapkan Pisang Pilih pisang yang matang sempurna, tetapi tidak terlalu lembek. Pisang yang masih sedikit keras akan memberikan tekstur keripik yang lebih baik. Kupas pisang, lalu iris tipis-tipis dengan ketebalan sekitar 2 mm. Semakin tipis irisan pis...