Sejarah Perkembangan peradaban sastra arab modern
Pada tahun 1978, Napoleon Bonaparte mendarat di Mesir untuk berekspedisi dengan para tentaranya mereka bertempur untuk melawan kaum mamluk dan berhasil menguasai Mesir. Dalam kekuasaannya Napoleon mendirikan pembaharuan - pembaharuan di Mesir seperti menjadikan Mesir negara republik yang sebelumnya negara kerajaan. Napoleon menerapkan persamaan kedudukan dan keikutsertaan rakyat dalam soal pemerintahan negara.[1]Masa berkuasa Napoleon di negara Mesir Kurang lebih tiga tahun setelah diserang oleh pasukan Inggris dan Perancis. Mesir pun meraih Puncak kemerdekaannya pada tanggal 28 Februari 1922 setelah negara Inggris menguasai dan mengontrol negara tersebut selama lima puluh tahun.[2]
Ketika Perancis menguasai Mesir, maka Turki Usmani mengutus pasukan militer untuk berperang melawan Prancis dan berhasil mengusir negara tersebut. Kemudian ketika kosongnya kedudukan penguasa Mesir, Pemuda berani yakni Muhammad Ali Pasha Sang Pemimpin ekspedisi dari Turki pun berhasil menduduki posisi Gubernur dengan menyingkirkan pesaingnya yaitu kaum mamluk. Dalam kekuasaannya Ali membangun pembangunan-pembangunan seperti di bidang militer untuk memodernisasikan Angkatan Perang Mesir sekolah militer di Kairo pembangunan Akademi Industri serta sekolah Perwira Angkatan Laut di Iskandar. Ali juga membaharui senjata-senjata diimpor dari negara Inggris dan Jerman, Mengutus ratusan perwira ke Eropa untuk mendalami ilmu kemiliteran dan mewajibkan militer bagi para petani sehingga kemiliteran Mesir menjadi Sangat kokoh.[3]
Dalam perkembangan sejarahnya sastra Arab pernah mengalami masa vacum and yang cukup lama dan perkembangannya yang tidak signifikan. Masa tersebut ketika Turki Usmani menguasai kawasan Arab termasuk Mesir disebabkan terjadinya politik penguasa Turki yang kurang perhatian terhadap negara-negara di bawah kekuasaannya. Sehingga keadaan sastra sangat memprihatinkan kondisi tersebut, keadaan ini di ilustrasikan oleh seorang filosof mesir yang pernah singgah di Mesir dan negara-negara Arab lain dengan ungkapan: "Kebodohan merupakan fenomena umum di Mesir dan negara-negara kekuasaan Turki. Fenomena itu terjadi di segala lapisan dan segala bidang. Bahkan keterampilan tanganpun mereka lakukan dengan sangat sederhana. Sampai-sampa mereparasi jam tangan mereka tidak mampu. sehingga pekerjaan ini dilakukan oleh orang asing" (Jüdat al-Rikābī, 1982: 251)[4]
Setelah beberapa saat ketika Mesir diambil alih kekuasaan oleh Prancis dan mengubah serta memperkenalkan beberapa hal kemodernan. Maka perkembangan sastra pun mengalami perkembangan yang pesat sejauh mana tokoh tokoh Mesir seperti tahtawi yang mengkaji peradaban barat menerjemahkan buku-buku.[5]
Pada masa tersebut Ketika masuknya kebudayaan Perancis ke dunia Arab yang dibawa oleh Napoleon, maka munculah gerakan baru sebagai reaksi percampuran sastra Arab dan Perancis. Gerakan ini disebut gerakan neolitik yang dipelopori oleh Al barudi dan Syauqi. Gerakan neolitik menanamkan kembali karakteristik tradisi dan peradaban Arab sehingga mengembalikan kepercayaan penyair untuk berkarya dan mengembangkan sastra kembali. tokoh tokoh pengemuka gerakan neolostik diantaranya adalah Al Barudi, Ahmad Syauqi, dan Hafidh Ibrahim.Nama asli Al barudi adalah Mahmud Sami Al barudi, ia merupakan pemuka pertama gerakan neoklasik yang telah berhasil mempertahankan identitas puisi Arab klasik. Karya-karya puisi al-barudi terkumpul dalam dua antologi puisi.[6]
Sebagai kritikan terhadap demokrasi gerakan neolitik, maka munculnya pola aliran Arab modern baru yang dikenal sebagai aliran diwan sekitar tahun 1900 - 1910. Madrasah Diwan merupakan gerakan sastra yang dipelopori oleh tiga penyair, yakni Abd Ar rahman Syukri, Ibrahim Abd Al qodir Almazini dan Abbas Mahmud Al Aqad. Aliran ini dikenal oleh kalangan penyair pada tahun 1921. Setelah terbentuknya aliran tersebut, pada tahun 1932 beberapa penyair pun mendirikan aliran baru yang disebut madrasah apollo.[7]Nama aliran ini menunjukan pada Gunung Barnas di Yunani, tempat tinggal Apollo dan dewa seni dalam mitologi Yunani. Aliran ini memiliki tujuan untuk menghilangkan beberapa macam perbedaan aliran, latar belakang budaya dan politik para penyair. Aliran Apollo menganut kebebasan dalam mengekspresikan sastra yang indah meskipun kurang menghiraukan moral.
Selain aliran-aliran tersebut terdapat aliran lain seperti aliran romantisme dalam sastra Arab yang dipelopori oleh khalil Mutran. Ia memiliki Catatan sejarah yang berpengaruh besar dalam perkembangan sastra. Mutran menciptakan pola Qasidah perpuisian baru yang lebih luas dengan mengungkapkan visi pribadinya yang bersifat individualistif, introspektif dan ekspresif. Selain syair-syair Mutran yang bernuansa romantis kehidupan, ia juga menciptakan syair yang indah berbaukan sosial yang melingkupinya.[8]
Kontribusi yang besar juga telah diberikan oleh Abbas Mahmud Al aqqad si pemburu puisi pada abad ke 20. Karya-karyanya yang Brilian dapat menyongsong pendapat-pendapat yang cerdas. Al aqqad lebih mengutamakan makna yang penuh arti dan padat isi pada puisinya dan memiliki gaya sastra yang bebas. Karya - karya indah Al Aqqad terhadap pengaruh sastra arab diantaranya Abir Sabil, Hay al-Arbain, ‘Asafir al-Maghrib, dan Hidayat al-Karwan.[9]
Selain Khalil Mutran dan Al aqqad, Al mazini atau Ibrahim Abdul Qodir merupakan sastrawan yang memberikan kontribusi terhadap perkembangan sastra Arab. Ia termasuk pesohor aliran Diwan yang melontarkan kritikan dan reaksi tajam terhadap gerakan neolistik. Al mazini sangat menekankan orisinalitas puisi yang bersifat objektif yang menurutnya belum ada di masa klasik agar tidak terjadinya kegiatan plagiat atau penjiplakan. Karyanya yang sangat masyhur Ibrahim Al khatib dan Zaynab.
Aliran lain dimasa sastra modern yaitu Madrasah Mahjar. Mereka merupakan sekelompok orang yang utamanya berasal dari Suriah dan Lebanon yang berhijrah ke Negara Kanada dan Amerika untuk mengembangkan sastra arab sekitar tahun 1860. [10]Golongan ini terbentuk menjadi dua yakni golongan yang tinggal di Amerika Utara yang berhasil mendirikan liga pena " Arrabithah Al qolamiyah" dan golongan yang tinggal di Amerika Serikat berhasil mendirikan liga andulisia "Al Usbah Al andalusiyah" . Mereka berhasil menciptakan bentuk baru puisi yang lebih bebas, puisi tersebut biasa disebut sastra Mahjar. Sastra Mahjar merupakan hasil percampuran dua budaya antara Timur dan Barat bahkan multikultural yang ditopang oleh kekuatan ruhani dan imajinasi sastrawan sehingga terlahir genre baru yakni Sya'ir Alhur atau mursal ( bebas sajak dan wazan) dan sya'ir Al mantsur ( bebas sajak wazan namun kadang masih bersajak ) diantaranya tokoh terkemuka gerakan ini adalah Antonie Al basie sebagai pelopor pertama, Mikhoil Rustam. Salah satu karya puisi mereka yang terkenal adalah Al mawakib.[11]
#ayo kuliah di UIN Raden Fatah
[2] Nurudin, 2015. Ide pembaharuan Napoleon dan Tahtawi di Mesir, Al ma'rifah, Vol 12 No 01, hlm 18 – 27
[3] Hatib Rahmawan , 2009. Changes in Education, Religion, Social, Economic, Culture, and
Politics in Egypt Post-Napoleon Invasion. Al misbah, Vol. 07 No. 02. Hlm 68 - 74
[4] Nurudin, 2015. Ide pembaharuan Napoleon dan Tahtawi di Mesir, Al ma'rifah, Vol 12 No 01, hlm 19
[5] Ibid, hlm 20 - 24
[6] Sitti Maryam, 2019. Historisitas Aliran Neoklasik Dalam Kemitraan Arab, Al irfan, Vol.1 No.1, hlm 129 – 133
[7] https://roedijambi.wordpress.com/2011/04/05/aliran-sastra-arab-modern-di-mesir-madrasah-diwan/
[10] Fadlil Munawar, 2007. Sejarah perkembangan kesustraan arab klasik dan modern, Dalam "Seminar lntemasional Bahasa Arab dan Sastra Islam: Persoalan Metode dan Perkembangannya" Ithla UPI 23 – 25 Agustus.
[11] https://www.academia.edu/38061541/SEJARAH_SASTRA_ARAB_MODERN_MADRASAH_MAHJAR