Langsung ke konten utama

Analisis Syair ‎شكوياليائس

 

Analisis Stilistika dalam puisi   شكوي اليائس

Mutiara Permaisuri Abiyah Azahra

(Jurusan Bahasa & Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora Uin Raden Fatah Palembang)

Email : mutiaraabbiaj@gmail


A. Pendahuluan 

          Syi'ir merupakan kata berasal dari bahasa arab, asal kata tersebut yakni شعر- شعرا  menurut bahasa berarti mengetahui dan merasakan. Dalam sastra Arab syair merupakan sesuatu yang muncul pada masa pra Islam yang kemudian menjadi suatu puisi yang terkenal di kalangan orang Arab. Menurut Ahmad Asy syaib syair atau puisi merupakan suatu ucapan atau tulisan yang memiliki unsur-unsur seperti wajan Bahr ( ritme gaya lama) dan kopiah ( kesesuaian akhir barisan dalam satu bait).

      Syair menjadi hal yang sangat berharga dan sangat diistimewakan. Bahkan seorang penyair dijadikan sebagai tolak ukur kehebatan sebuah kaum, karena penyair bagi mereka adalah aset paling berharga untuk menopang sebuah kehormatan. Syair juga menjadi legitimasi bagi mereka untuk mengenang peristiwa-peristiwa penting (Ayyâmu’l ‘Arab). syair juga memiliki nuansa artistik pada tema-tema tertentu lainnya seperti: al-Hamâsah yaitu syair-syair yang berkaitan dengan keberanian, kekuatan dan ketangkasan seseorang dalam medan peperangan. An-Nasib, yaitu syair-syair yang digunakan untuk mengekspresikan kekaguman mereka kepada seorang wanita. Al-Madh, yaitu syair-syair puisi yang digunakan untuk menyampaikan pujian dan penghargaan kepada orang lain. Al-Ritsâ’, yaitu kumpulan syair yang digunakan untuk mengekspresikan rasa sedih, putus asa dan kepedihan. Al-Ghazzâl, yaitu tema syair yang membicarakan ihwal seorang wanita yang dicintai. Serta masih banyak lagi tema-tema lainnya yang menjadi bahan penyair untuk mengekspresikan rasa hatinya dalam sebuah bait syair. Untuk mengetahui isi dari sebuah syair yakni melakukan analisis dengan sebuah ilmu disiplin yakni dengan ilmu stilistika atau ilmu uslub.

        Stilistika merupakan bagian dari ilmu sastra, yang mempelajari tentang gaya bahasa dalam kaitannya dengan aspek-aspek keindahan. Istilah stilistika tidak dapat dipisahkan dari style, mengingat kedua istilah itu saling berkaitan satu sama lain. Style adalah salah satu aspek yang digarap oleh stilistika. Menurut Gorys Keraf, style yang diambil dari bahasa Latin stylus adalah alat untuk menulis pada lempengan lilin. Stilistika sendiri dapat dipahami sebagai suatu kajian atau ilmu yang objeknya adalah rangkaian gaya bahasa atau style. Menurut Syihabuddin Qalyubi dalam disertasinya menyebutkan bahwa stilistika adalah ilmu yang mempelajari style dan berusaha menjelaskan ekspresi pengarang, nilai estetis yang ditimbulkan dari pemilihan kata, dan efek yang ditimbulkan dari makna.


B. Ranah Kajian Stilistika

   Kajian stilistika bisa menggunakan dua pendekatan, Pertama, pendekatan tradisional, pada pendekatan ini struktur bahasa dikaji dengan pola-pola tradisional seperti sastra klasik. Kedua, pendekatan modern, pendekatan ini lebih menekankan pada kajian- kajian teori-teori linguistik, seperti aspek fonologi, morfologi, sintaksis dan semantis. Pada pendekatan modern ini, stilistika berperan dan dibantu dengan disiplin ilmu yang linguistik yang lain. Pendekatan modern inilah yang sering dilakukan oleh para linguis guna mencari maksud makna pada konsep teks sastra klasik maupun modern.

    Syahbuddin Qalyubi mengutip pendapat Nabil 'Ali Hasanain yang mengatakan bahwa uslüh (stilistika) membahas seluruh kajian balaghah dan kajian linguistik. Lebih lanjut, Qalyubi membaginya menjadi lima ranah kajian, yaitu: al-mustawa al-sauti (fonologi), al-mustawa al-sarfi (morfologi), al-mustawa al-naltei atau al-tarkibi (sintaksis), al-mustanca al-dalali (semantik), dan al-mustawa al-taswiri (imageri) (Qalyubi, 2013).  Analisis ini bertujuan untuk memahami isi dari syair dengan menggunakan sistem lima tingkatan tersebut agar mengetahui asfek ,- asfeknya dalam segala sisi.


C. Analisis Stilistika pada puisi  شكوي اليائس

شكوي اليائس

حِيْنَ يُوْحِشُ كُلُّ حَشْوَةِ اللَياَلِى المُقْمِرْ

تَنْتَفِثْ أَغْنِيَةُ النَّسِيْمْ ناَضِرْ

فاتَّضَحَ بَيْنَ الجَقْفَيْنِ نَاظِرْ

مُسْتَطْلَعْ نَفاَدِ إِرْبِ باَدِرْ


يَلَى المَسْجِدْ سَجَدْتُ عَلَيه السُجُوْدَ المَيؤُوس.

وَ كَلِمَةْ فَكَلِمَاتْ أَتَجاَسَرْ عَيْشَ مَا يَكُوْنُ أَهْيَشْ

دَحْراً  أَدْحُرُ الكَوَاكِبْ مَزْخَرْ بِإتِّكَالِى

رَجَاءً أَرجُو مَرْجُوَ رُؤُوْفِ المُتَعَالِى


يَتَجَعْجَعْنِى القلب

يَاالبَرّْ ..  هَلِ الكَآبَةْ مُؤَهَلَةْ عَلَيْهِ تَتَآكُلُ العَيْشَةْ ؟

يالمَتِيْنْ ... هَلِ العُيُوْن مُؤَهَلَةْ عَلَى مُرُوْرِ مُرِّ العَيْشَةْ؟


فاعْتِقْ عتقًا زِنْجِيْرَ لوْعَةْ مَاعِشْتُ
واشْرَحْ صَدْرِي دَرْجًا عَلَي كُلِّ مَا اصَبْتُ
واجْعَلنِىَ العَبْدَ متعمدةً مِنْ حِمايَتِكْ
فيَصْبَح عَصْرِي لِقَاءً عَلَي حُلُولِ  عَطِيّتِكْ


 Pengaduan Sang Putus Asa

Dikala sunyi rembulan malam
Menghembuskan alunan lirih angin nan lantam
Hingga terdedah pirsaan kedua mata
Menitih laju seledar raga

Wahai akar misa, ku bersujud kepadanya dengan penuh asa
Ku mengadu kata demi kata akan nestapa hidup yang tiada renta
Menyekang hiasan malam dengan sejuta sadrah
Mengharapkan secercah belas-kasih Dari sang Maha Pemurah
 
Hatipun bersoak....
Wahai yang maha penderma
Akankah jiwa ini sanggup menghadang
Erosi hidup?
Akankah kedua mata ini sanggup
Menerima pandang semu?

Maka lepaskanlah belenggu derita hidupku
Lapangkanlah  ragaku untuk menerima seluruh rangkaian nestapaku
Jadikanlah diriku hamba yang selalu tak luput dari naunganmu
Hingga akhir masaku bersua akan manisnya karuniamu

1. Analisis Fonologi / التحليل الصوتي

     Analisis Fonologi bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat artikulasi dalam tataran praktis dengan mengetahui sifat-sifat artikulasi dan fisikal suatu bunyi.  Pada segi qofiyah syair ini mempunyai qofiyah dalam setiap baitnya. Bait pertama dalam setiap hari memiliki qofiyah rha yang dibaca sukun karena waqaf serta agar lebih indah dibaca secara keselarasan satu vokal diakhir barisan. 

        Sya’ir berjudul شكوي اليائس  terdiri atas empat bait, pada bait pertama, kedua dan keempat memiliki empat baris sedangkan pada bait ke tiga terdapat tiga baris. Pada syair tersebut penyair sangat memperhatikan segi kopiahnya. Sehingga terdapat vokal yang sama Dalam bait kedua ketiga dan keempat. Pada bait pertama setiap baris memiliki qofiyah yang sama dengan waqaf huruf rha المقمر، ناظر، بادر، ناضر  , Huruf ra’ termasuk kategori bunyi konsonan zalaqiyyah hanakiyyah (Apikopalatalal), yaitu konsonan yang terjadi karena ujung lidah merapat pada langit-langit keras. Dan Pada bait kedua terdapat kata اتّكالي ، المتّكالي  , kesamaan huruf akhir tersebut dalam ilmu balaghoh disebut sajak. Persajakan dalam bait kedua diakhiri oleh bunyi vokal /Ū dibaca panjang karena terdapat huruf ي  sukun yang tidak dibaca setelahnya. Sedangkan vokal sajak pada bait ketiga dan keempat berbunyi vokal pendek. Kesamaan bunyi vokal dan konsonan jika diurutkan akan membentuk pola A – A – B – B. 

2. Analisis Morfologi / التحليل الصرفي

    Analisis morfologi bertujuan menyelidiki perubahan yang terjadi pada suatu kata berdasarkan klasifikasi kelasnya serta perubahan makna yang menyertainya. Dalam puisi ini ditemukan tiga kata ganti. Pertama, merujuk kepada keadaan berdhomir هو dan kedua merujuk atas diri penyair sendiri memakai dhomir انا dan ketiga merujuk kepada Tuhan dalam konteks permohonan penyair menggunakan kata ganti انت  . Puisi ini diinterpretasikan atas keputusan alasan penyair dalam menjelaskan perjuangan hidupnya. 

         Analisis morfologinya wazan yang digunakan pada bait pertama akhir bukan fi’il madhi atau khobar. Akan tetapi berbentuk Isim fail karena kata    المقمر، بادر، ناظر، ناضر  akan memberikan pengaruh keindahan dalam pemaknaan serta penghayatan yang berbeda. Pada bait pertama terdapat wazan fi’il madhi selain menunjukkan kehidupan penderitaan yang telah dijalankan oleh si penyair juga mempengaruhi keindahan dua kopi yang sama begitupula kedua Barisan di bait akhir. Pada akhir bayi terdapat wazan fi’il Amri yang menandakan permohonan  penyair kepada Tuhannya.

3. Analisis Sintaksis / التحليل النحوي

        Analisis Sintaksis bertujuan untuk mengetahui keberterimaan suatu kalimat. Apakah kalimat itu sudah baik, sesuai dengan pola-pola, dan makna yang terkandung dalam kalimat itu. Penyimpangan sintaksis yang terdapat dalam puisi ini dapat dilihat dari sisi fi’il mudhari' pada dua baris pertama yang menunjukkan bahwa kedua keadaan tersebut (antara sunyi malam dan aluran lirih angin) dapat terjadi pada masa yang berkelanjutan. Pada kofiyah bait pertama tersusun Fa’il yang menandakan keadaan demgan akhir huruf rha sukun pada bait pertama, hal ini untuk memperindah dalam pelafalannya. 

Jika dilihat dari skala skala i'rob pada bait kedua terdapat Fi’il serta taukid 
دحر – ادحر،  رجاء – أرجو
Hal ini menunjukkan bahwa penta'kidan akan perlawanan – perlawanan yang dialami penyair sekaligus harapan penyair terhadap keadaannya. Dan pada bait terakhir terdapat serangkaian fi’il Amar اعتق، اجعل، اشرح dengan berfungsi sebagai permintaan serta doa penyair dalam perjuangan dan perjalanan hidupnya. Secara tarkib terdapat jajaran susunan yang sama dalam setiap baitnya seperti bait pertama   فعل + فاعل + اسم الفاعل ( الحال)  dan pada bait ketiga terdapat kata harfu bisa dan munada serta istifham (ياالبرّ ، يالمتين، العيشة؟, ) hal ini menunjukan bahwa si  penyair  sedang berkeluh kesah kepada tuhannya. Tujuan informasi yang disampaikan penyair dapat menimbulkan rasa pasrah ketika mengadu segala hal kepada tuhan.

4. Analisis Semantik ,/ التحليل الدلالي

       Dalam analisis ini bertujuan untuk mengetahui dan meneliti kedudukan serta fungsi dalam sebuah syair. Dalam puisi ini penyair menggunakan kata مسجد  dalam bentuk keterangan tempat, penyair menjadikan Keterangan tersebut bukan hanya sebagai tempat bersujud saja akan tetapi sebagai pelantara keluhannya terhadap Tuhannya sekaligus penyair menginginkan kata tersebut sebagai saksi kelak atas perjuangannya  Menghadang cobaan dalam mendekati Tuhannya. 
     
    Jika kita menelitik dari kata كواكب  yang berarti planet-planet, kata ini muncul dalam al-quran sebanyak 5 kali. Salah satu kisah yang paling fenomenal di kalangan muslim adalah mengenai mimpi Nabi Yusuf dan argumen Nabi Ibrahim terhadap ayahnya. Dari mimpi Nabi Yusuf tersebut setelah ditafsirkan bahwasannya kata ini yang bermakna planet karena yang mana jika diartikan sebagai bintang maka ukurannya lebih besar daripada matahari maka  mungkin bintang akan tanpam kasihan kepada Nabi Yusuf dan jika diartikan sebagai planet maka merujuk pada tata surya yang bertabur berjajar di langit dan hal ini sangat masuk akal. Menurut peradaban kuno planet dipandang sebagai sesuatu yang abadi atau perwakilan Dewa dari hal-hal tersebut penyair menganalogikan kata kawaki sebagai hal yang masuk akal yang akan terus datang kepada kehidupan manusia dari segi kebaikan maupun buruk dalam semua aspek kehidupan yang pasti manusia menerimanya.

5. Analisis Imagery / الحيل التصويري

    Analisis imagiry bertujuan untuk mengetahui, mencari serta menelitik keindahan  
Yang digunakan penyair dalam puisinya.  Pada bait ke tiga terdapat kata seruan yakni يالبرّ، يالمتين  Kedua kata tersebut merupakan laqob keagungan yang berbeda kepada tuhan sesuai dengan keluhan si penyair :
يَاالبَرّْ ..  هَلِ الكَآبَةْ مُؤَهَلَةْ عَلَيْهِ تَتَآكُلُ العَيْشَةْ ؟
يالمَتِيْنْ ... هَلِ العُيُوْن مُؤَهَلَةْ عَلَى مُرُوْرِ مُرِّ العَيْشَةْ؟
Wahai yang maha penderma
Akankah jiwa ini sanggup menghadang
Erosi hidup?
Wahai yang maha Kokoh
Akankah kedua mata ini sanggup
Menerima pandang semu?

     Dari kata al barr yang berarti penderma atau pemberi segala sesuatu menunjukan bahwasannya penyair mengeluhkan tantangan kehidupannya kepada sang maha pemberi segala sesuatu . Demikian pula pada baris selanjutnya laqob mathin yang artinya maha kokoh, penyair mengeluhkan kelemahannya kepada sang maha pemberi kekuatan. Jika ditinjau melalui pendekatan gaya bahasa laqob tersebut eponim. Eponim adalah julukan, gaya bahasanya menghubungkan seseorang dengan sifat tertentu, dan sifat tersebut memiliki hubungan dengan pelaku tersebut.

       Kemudian pada kata تتآكل  yang berarti erosi, seperti yang kita ketahui erosi merupakan proses alami pengikisan tanah lapisan atas oleh air, angin atau es. Erosi memang membentuk banyak penampakan alam menarik seperti puncak gunung, lembah dan garis pantai.Hal tersebut penyair mengibaratkan segala ujian hidup yang dialami penyair yang berbentuk menarik akan tetapi sangat berbahaya jika tidak hati – hati dalam mengahadapinya. Pengibaratan tersebut termasuk Majaz Alegori, yakni Majas yang menyatakan dengan ungkapan kiasan atau penggambaran. Kesimpulan dari penganalisisan syair ini yakni ungkapan keluhan penyair terhadap ujian – ujian hidupnya yang akan sama dialami oleh semua orang meskipun dalam proses atau bentuk yang berbeda – beda.


D. Kesimpulan

Setelah diteliti menggunakan 5 pendekatan ranah stilistika, kita menemukan beberapa gaya bahasa, seperti dalam segi : 
        Analisis Fonologi: Pada bait pertama setiap baris memiliki qofiyah yang sama dengan waqaf huruf rha المقمر، ناظر، بادر، ناضر  , Huruf ra’ termasuk kategori bunyi konsonan zalaqiyyah hanakiyyah (Apikopalatalal), yaitu konsonan yang terjadi karena ujung lidah merapat pada langit-langit keras. Dan Pada bait kedua terdapat kata اتّكالي ، المتّكالي  , kesamaan huruf akhir tersebut dalam ilmu balaghoh disebut sajak. Persajakan dalam bait kedua diakhiri oleh bunyi vokal /Ū dibaca panjang karena terdapat huruf ي  sukun yang tidak dibaca setelahnya. Sedangkan vokal sajak pada bait ketiga dan keempat berbunyi vokal pendek. Kesamaan bunyi vokal dan konsonan jika diurutkan akan membentuk pola A – A – B – B. 

    Analisis Morfologi : 1) dalam syair tersebut terdapat tiga kata ganti, 2) wazan yang digunakan pada bait pertama akhir bukan fi’il madhi atau khobar. Akan tetapi berbentuk Isim fail karena kata    المقمر، بادر، ناظر، ناضر  akan memberikan pengaruh keindahan dalam pemaknaan serta penghayatan yang berbeda.
     
    Analisis sintaksis : 1)Penyimpangan sintaksis yang terdapat dalam puisi ini dapat dilihat dari sisi fi’il mudhari' pada dua baris pertama yang menunjukkan bahwa kedua keadaan tersebut (antara sunyi malam dan aluran lirih angin) dapat terjadi pada masa yang berkelanjutan. 2) Terdapat takdim dan takhir pada fiil dan maf'ul berguna untuk menta’kidkan harapan si penyair.

    Aanalisis semantik : 1) penyair menggunakan kata مسجد  dalam bentuk   keterangan tempat, penyair menjadikan Keterangan tersebut bukan hanya sebagai tempat bersujud saja akan tetapi sebagai pelantara keluhannya terhadap Tuhannya sekaligus penyair menginginkan kata tersebut sebagai saksi kelak atas perjuangannya  Menghadang cobaan dalam mendekati Tuhannya. 2) penyair menggunakan kata kawakib sebagai perumpamaan sesuatu yang telah dikehendaki tuhan kepada hambanya.

   Analisis Imagiry : 1) menggunakan eponim terhadap julukan agung kepada tuhannya dengan menyesuaikan kalimat setelahnya. 2) mengibaratkan godaan – godaan hidup dengan kata erosi.


Daftar Pustaka

Gorys Keraf, Diksi dan Gaya Bahasa, Jakarta : Gramedia pustaka utama 2007.

Khotibul dan muhamad, gaya bahasa lukman dalam mendidik anak, Indonesian Journal of Arabic Studies, Vol. 2 Issue 1, May 2020

Syihabuddin Qalyubi ,”Stilistika Kisah Ibrahim AS dalam al-Qur’an” ,dalam Disertasi  Ilmu Agama Islam Program Pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga ,2006 .

Syihabuddin Qolyubi, Ilmu Uslub ; stilistika bahasa dan sastra arab, Yogjakarta : IPI UIN SUKA, 2007

Ridwan Nur, Nilai – nilai karakter dalam syair Tanpa Waton, skripsi: 2013



Postingan populer dari blog ini

Cara Membuat Keripik Pisang Asin Khas Malang: Gurih dan Renyah!

  Cara Membuat Keripik Pisang Asin Khas Malang: Gurih dan Renyah! Keripik pisang asin khas Malang dikenal dengan rasanya yang khas dan menjadi oleh-oleh favorit. Teksturnya yang renyah dan rasa gurihnya yang pas membuatnya digemari banyak orang. Kini, Anda bisa mencoba membuatnya sendiri di rumah dengan panduan berikut! Bahan-bahan: • Pisang kepok matang (pilih yang masih agak mengkal) • Garam secukupnya • Minyak goreng secukupnya Alat yang Dibutuhkan: • Pisau tajam • Wajan untuk menggoreng • Saringan atau keranjang Langkah-Langkah Membuat: 1. Iris Pisang: Kupas kulit pisang, lalu potong tipis-tipis. Usahakan ketebalannya sama agar pisang matang merata saat digoreng. 2. Taburi Garam: Letakkan irisan pisang dalam wadah, lalu taburi garam secukupnya. Aduk hingga semua irisan pisang terbalut garam. 3. Goreng Pisang: Panaskan minyak di wajan dengan api sedang. Goreng irisan pisang hingga berubah warna menjadi kuning keemasan dan kering. Angkat, lalu ...

Tokoh Sastra Arab Palestina ; Mahmoud Darwish

  Tokoh Sastra Arab Palestina ; Mahmoud Darwish                Salah satu Seorang sastrawan yang sangat termasyhur di anatara kalangan para penyair khususnya sastrawan arab siapa lagi kalau bukan Mahmoed Darwish. Tak asing lagi kita mendengar nama ini. Seorang penyair yang banyak akan karya dan seninya yang sangat indah serta menginspirasi. Darwish merupakan sastrawan yang lahir di Al birweh Palestina pada tanggal 13 Maret 1941. Ia merupakan penyair yang telah dapat banyak penghargaan atas karyanya yang luar biasa.             Jika kita menilik sejarah hidupnya, ia telah melewati dan menyaksikan kehancuran desa-desa tempat kelahirannya. Yang mana peristiwa perang rerusuhan antara negara Palestina dan Israel sekitar tahun 1948. Hancur balaunya daerah Palestina membuat tragedi kemanusiaan yang tragis selama bertahun – tahun. Tak gencar dari konflik ters...

Cara Membuat Keripik Pisang Manis Rendah Gula dan Menyehatkan

  Cara Membuat Keripik Pisang Manis Rendah Gula dan Menyehatkan Keripik pisang merupakan camilan populer yang enak dan bisa menjadi pilihan camilan sehat jika dibuat dengan cara yang tepat. Dengan sedikit modifikasi, Anda bisa membuat keripik pisang manis yang rendah gula dan tetap menyehatkan. Berikut adalah langkah-langkah cara membuat keripik pisang manis rendah gula dan menyehatkan: Bahan-bahan: 4 buah pisang matang (jenis pisang tanduk atau pisang raja lebih disarankan) 1 sendok teh kayu manis bubuk (opsional, untuk aroma) 1-2 sendok teh madu (sebagai pengganti gula) 1 sendok makan air jeruk nipis 1 sendok makan minyak kelapa (untuk menggoreng) Sejumput garam laut (opsional, untuk menambah rasa) Langkah-langkah: Persiapkan Pisang Pilih pisang yang matang sempurna, tetapi tidak terlalu lembek. Pisang yang masih sedikit keras akan memberikan tekstur keripik yang lebih baik. Kupas pisang, lalu iris tipis-tipis dengan ketebalan sekitar 2 mm. Semakin tipis irisan pis...