Tokoh Sastra Arab Lebanon ; Khalil Gibran
Bagi pecinta sastra tentunya tidak asing lagi dengan nama yang sangat fenomena di dunia sastra. Siapa lagi kalau bukan Khalil Gibran sang penyair asal Lebanon. Khalil Gibran lahir pada tanggal 6 Desember 1883 di Bishari, sebuah kota terpencil bagian Utara dari Negri Lebanon. Ia dilahirkan dilingkungan miskin yang menganut kepercayaan agama kristen maronit.
Pengalaman – pengalaman hidup Gibran dari semasa kecil mulai dari kehidupan kotanya yang sering mengalami bencana hingga ketika masa belajarnya yang berbeda budaya memberikan ia ide – ide inspirasi bagi tulisan – tulisannya.
Ia dikenal dengan sebutan penyair puisi Lebanon-Amerika. Gibran mulai terkenal sebaga sastrawan pada abad ke-20 sampai sekarang. Kata – katanya yang sangat tegas nan indah menjadikannya penyair yang telah melewati banyak peristiwa – peristiwa atas puisinya.
Salah satu peristiwa sangat msyhur akan puisinya adalah ketika ia menulis kritikan dalam sebuah buku yakni tulisan kritikan yang tajam terhadap kalangan gereja. Isi kritikannya mengenai penolakan pembangunan gereja dikalangan penganut agama kristen yang miskin berkepanjangan, pendeta yang hidup enak memakan uang hasil dari keringat para penganutnya yang terus bersusah payah memperjuangkan tenaganya untuk memeras keringat setiap hari.
Dari peristiwa tersebut maka para kaum agamawan serta pihak gereja mengencamnya dan membakar karyanya tersebut habis – habisan.
Khalil Gibran lebih condong membuat tulisan - tulisan berjenis romantis. Kata – kata yang indah dalam mendeskipsikan cinta romantis membuat siapa saja yang membacanya akan merasa tersentuh hati dan memahami arti makna terdalam dari sebuah cinta.
Jika kita menelusuri kata – kata mutiara atau syair di internet maka kita akan menemukan ratusan bahkan ribuan karya – karyanya yang tak pernah padam membuat takjub para pembacanya. Berikut salah satu kata – katanya Gibran yang dikutip dari hanyacoretankami.blogspot.com :
“ cinta tidak menyadari kedalamannya dan terasa pada saat perpisahan pun tiba. Dan saat tangan laki – laki menyentuh tangan seorang perempuan mereka berdua telah menyentuh hati keabadian”
“ ketika cinta memanggilmu maka dekatilah dia walau jalannya terjal berliku. Jika cinta memelukmu maka dekaplah ia walau pedang di sela – sela sayapnya melukaimu.”